Tuesday, April 19, 2005

mari memasak

pada suatu sore, dimana senja itu ada
di sebuah dapur, dengan kepulan asap lembut keluar dari cerobongnya...
para juru masak berkumpul
kita berbicara dengan bahasa yang berbeda...
aku dengan membawa resep "jawaban asam manis", terdiri dari :
seikat keraguan...
tiga kilo logika...
delapan butir keinginan...
satu buah hati yang utuh...
seratus gram keinginan...
satu sendok makan rasa dalam jiwa...

mereka dengan segudang peralatan masaknya

dalam bejana yang sama, semua kata jadi bermakna...
menjadi letupanletupan kecil dalam ceruknya...
satupersatu masuk kedalamnya...
pada akhirnya semua tersaji cantik dalam nampan transparan

waktu berselang dalam suapan akhir,

terimakasih Tuhan...
yang telah menciptakan semuanya itu menjadi makanan lezat...
Tuhan Maha baik...

Friday, January 07, 2005

surat untuk suamiku

suamiku...
selama ini aku sangat mendambamu, seperti aku mendamba sebuah senja.
sekian lama aku berjalan dalam labirin,
dan akhirnya aku menemukan jalan untuk pulang...
aku pasti sangat mencintaimu...
hingga aku titipkan seluruh hatiku padamu...
aku biarkan dirimu bernafas dalam rongga paruku...
aku pasti sangat bahagia mencintaimu...
sebahagia ribuan pujangga yang sedang jatuh cinta...
kamu tau, aku mencintaimu sudah sejak lama...
jauh sebelum cerita Mahabrata ada...
dulu ku pikir kau hanya menjadi mitos yang melegenda...
tapi sekarang aku percaya, karena kau jauh lebih nyata...
terimakasih untuk menjadi senjaku selamanya.


Tuesday, January 04, 2005

:Q 'n A

dua orang bidadari yang senantiasa mengibas pasir tubuhku dengan sayapsayap mungilnya

[satu]
Aku menunggumu di tepi rimba
bersimpuh kaku pada hamparan remang
berkafan rajutan fraktalfraktal waktu yang lama kita sulam
Tlah kita siasati rentang petang yang kita teguk bersama
dan memuntahkan sendawa laknat yang menyamar
dalam dengus asap pekat dari perut kita
:Belum waktu bertolak

[dua]
Riak angin mati dentam
membeku dilangit yang tertutup debu abu
Tanah mendekap luka, angin menating desah,
Perduperdu liar menabik anggun,
Melandaikan jalan embun yang menetes dari jarijarinya
Tuntaskan sudah dahaga penghabisan

[tiga]
Dan kusibak rantingranting kemarau
Peluh pun melayangterbang dalam kepak serangga hutan
Aku tetap menunggumu di tepi rimba
Dalam bebat hawa jingga


(Dengan segala kesederhanaan, aku menyayangi kalian...)

Tabik,

Bajangkirek, 2005

Bocah Sunyi dan Rembulan

:Tsunami victims in Aceh and North Sumatra

Dikisahkan tentang hikayat rembulan,
Yang menyelinap dicelah malam diamdiam,
Membiaskan cahaya yang menetes puingpuing kota,
mengkristal terhembus dingin angin utara,
berdentingan diatap rapuh sebuah surau tua.
Seorang bocah sunyi terbalut beku malam,
Mencatat kisah rembulan dilontar peradaban.
tentang murka bunda yang letih diperkosa ayah,
tentang biduk yang tak mendapat restu samudra,
tentang perangkap awan yang menyergap,
tentang kantungkantung derma yang dipanggulnya,
tentang rembulan berkerudung hitam diujung pulau,
Dititipkan cerita ini pada telaga,
Dalam pahatan riakriak duka,
Biarkan kisah sang rembulan menjadi rahasia kecilnya,
Agar kelak dapat dikenang dalam airmata.

Tabik,
Bajangkirek, 2005


(Sebuah sajak duka dari seorang sahabat)

Monday, January 03, 2005

sesak rencong

hinakah aku duhai penguasa tahta?
hingga Kau biarkan bunda alam mencacah jiwajiwanya...

My deepest condolences for the tsunami victim in Aceh.

TIK…TAK…TIK…TAK…

Hidup ini bernafas,berdetak…
Dalam tiap hembusan waktu adalah gagasan, harapan, perubahan dan kekecewaan…
Hidup ini bernafas…berdetak…
Perjalanan dari klimaks ketika labirin menemukan jalan untuk pulang…
Hidup ini bernafas, berdetak…
Tik…tak…tik…tak..kuasa…tik…tak…usia…tik…tak…
Hidup ini bernafas…berdetak…
Untuk suatu pertemuan…pembelajaran…perpisahaan…perubahan…perasaan…asa…
Hidup ini bernafas…berdetak…
Hmmph…


Sebuah puisi lawas
Bandung,2003

Journaling for self –discovery chapter I :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…pagi ini aku akan berbagi oksigen dengan rutinitas keseharian. Degup jantung kita sudah sama irama detaknya…dia adalah sebentuk yang kusangka cinta.
Kita selalu menghabiskan banyak purnama berdua…duduk-duduk dibangku taman bercerita hingga sore tiba. Aku dan dia kusangka satu.
Ya…jiwaku sudah bernafas dalam raganya…aku merasakan perihnya ketika dia mengeluarkan suara lirih, aku merasakan sesak yang amat ketika dia marah, aku tersenyum bahagia ketika dia bahagia,kulitku sudah berbaur dalam pori-pori kulitnya yang suci…dalam lenguhan nafas yang menyatu dengan peluh…kalian saling mencintai ucap anugerah.
Ada bisikan lain! Tidak semudah itu ujar waktu…karena dalam semesta raya tidak ada suatu yang lekang tanpa melewatiku.

Journaling for self-discovery chapter II :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…kenapa aku lelah pagi ini!?
Sudah berbulan-bulan mendung itu masih saja bergelanyut di ufuk.
Sinar matahari masih berusaha membiaskan cahayanya dalam cuaca seperti itu, tapi sayang, sinarnya tidak sanggup menembus awan gelap yang semakin pekat.
Kenapa hujan tidak segera saja turun harapanku dalam hati.
Keseharianku masih tetap sama, kenapa wajahmu berduka? sapa ku padanya. Aku lelah, selalu saja hariku diiringi dengan mendung yang sama dilangit,kemana sinar yang biasa kita nikmati di pagi hari? Ujarnya
Hmmmph…aku hanya bisa menghela nafas. Kali ini pertanyaannya tak sanggup aku jawab.karena aku merasakan hal yang sama.

Journaling for self-discovery chapter III :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…kali ini salam pagi yang biasa kuberikan pada surya hanyalah sebentuk rutinitas kata. Karena mendung sudah semakin meraja menyelimuti seluruh cahaya…
Aku bertemu dengan dia seperti biasa, tapi tak ada yang berubah dari sorot mata diwajahnya semenjak hari pertama mendung itu datang…cahaya matahari sudah tidak sanggup lagi memberikan energi untuknya..aku sedih ujarku lirih. Kenapa dia hanya diam? Matanya cekung hitam dan tubuhnya semakin kurus, yang tersisa hanya balutan kulit yang menyelimuti tulang. Dia jauh lebih merasakan kesedihan yang sangat…aku tidak bisa hidup tanpa cahaya ujarnya. Dengar…nafasku sudah satu-dua..aku tidak bisa lagi berkuasa atas aku, ujarnya berbisik.
Jangan bunuh aku dengan kematianmu ujar ku separuh berteriak…suaraku yang parau karena sesak, sudah tidak sanggup untuk berteriak lantang. aku mencintaimu…bagaimana bisa aku merasakan cinta dalam kematianmu?!?! Kamu tidak boleh mati…KAMU TIDAK BOLEH MATI!!!…
Kata terakhir yang ku teriakkan itu ikut menguap seiring dengan nafasnya…terbang ke angkasa, dan menyatu dalam alunan angin kesedihan yang sangat.


SAYA TIDAK INGIN MENYUDAHI KEMATIAN INI DENGAN KEMATIAN…
KARENA KEMATIAN YANG AKU RASA SEKARANG LEBIH NYATA DARI KEMATIAN YANG ADA…
AKU HANYALAH RAGA…
KARENA JIWA YANG KU PUNYA SUDAH KAU BAWA…
TERBANG KE ANGKASA…
BERSAMA RUH PARA PEZINA…
LOVE…

General opinion makes out that we live in a world of hatred and greed, but I don’t see that…. seems to me that love is everywhere. Often is not particularly dignified of newsworthy, but is always there.

“ if you look for it, I’ve got a sneaky feeling you will find that love actually around”
(Love Actually, 2005)

hmmm… let see…. I have no idea, but one thing I can be sure of that I finally found some one… He gave me the greatest sunshine in my life. Terimakasih…Tuhan maha baik!!


Dedicated to My RK. May Our Love remain forever...
ME’HEEM… …


if the timing is finally right, it’ll all just fall into place some how..and you know, I’m thinking, it would be a great feeling, in the end to be Able to say to someone, “ Hey you, you're the one that almost gotaway.”

Dedicated to My dearest soul RK

Suatu ketika ada seorang dara bertanya pada cahaya…
Apakah engkau yang memberikan kehangatan dalam kalbuku?
Bukan..jawab cahaya.
Kehangatan itu datang dari hati ksatria yang menjelma…
Apakah dia datang sebagai anugerah,tanya dara.
Bukan…jawab cahaya, anugerah itu hanyalah cobaan…
Ksatria itu datang tepat pada saat langit berwarna jingga…
Sehingga apapun yang kau rasa akan tampak berwarna…
Apakah yang aku rasa hanyalah rasa semu belaka?…tanya dara…
Bukan…bukan itu yang pantas kau pertanyakan, karena rasa yang kau punya lebih dari suatu apapun yang nyata.
Lantas,pertanyaan apa yang pantas ku pertanyakan…
Tak ada… ujar cahaya…
Kau hanya perlu pejamkan mata dan membiarkan ksatria itu membawamu kenegeri senja…
Dimana kehangatan yang kau rasa akan menjadi lekang.

Bandung, 2005

ASAH,PISAU,GUNTIIING…!

Asah, pisau guntiing...
asah,pisau gunting...
asah,pisau gunting...
ngngng...ng..ng...ngng...ngng...(hening!)

Siapa yang di asah, siapa yang ngasahnya, apa semua sudah sah!! Ngasah batokmu…
ngngng…ng..ng..ngng…ngng…(hening!)
Absurd!! Gagasan, kekecewaan, harapan, perubahan…
Seperti alat traspoter yang dapat memindahkan 10 pangkat 12 atom materi yang dikombinasikan dengan suatu pola yang kompleks,
di tembakan tepat di ubun-ubun!!
Mentransformasikan aku yang sudah di urai menjadi partikel-partikel kecil…
berombongan…menuju suatu tempat yang asing!

Asah, pisau guntiing...
asah,pisau gunting...
asah,pisau gunting...
ngngng...ng..ng...ngng...ngng...(hening!)

Apa ini!?…kenapa aku ada di punggung kuda?
Kenapa kudaku tidak menggungakan pelananya?
Tapi derap langkahnya semakin bertambah…tambah,menyusul kuda-kuda pesakitan!! …
tapi masih ada kuda di depanku…ratusan,ribuan!! Sampe berdesakan…
susah sekali untuk berlari, bahkan jalanpun masih tersendat…sangat padat!!
Ini bukan pacuan! Ini pelacuran untuk kuda pacuan.
Hanya gara-gara ingin mengikuti pertandingan…
Kenapa semua menjadi suatu permainan?!?

Asah, pisau guntiing...
asah,pisau gunting...
asah,pisau gunting...
ngngng...ng..ng...ngng...ngng...(hening!)

TERUK

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit, berteriak, mengamuk memecahkan cermin dan membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
A poem by Sapardi Djoko Darmono, 1973

@#%GJHSD@N7!ngaheu80-wlhj@n7ingaai@#$m;mtvbagsatanjklsy@n7iiiiingunderstanding!@##$%^&*dengannafasbuatangakaadaudar@gak@da##$^%ud@ra&*)Giokfieufiuuhhhelaannafashelaanafas…senj@j@74disen7@tabuatkumenghel@n@fas…

tiap detik waktu dalam ketiadaan untuk mencari suatu pembuktian?!
Hmmm…ternyata aku masih dalam labirin yang sama..masih saja sama..
Sebuah monolog yang selalu di lakukan pada tiap kehampaan malam,
dalam keheningan semesta akan sebuah pertanyaan besar.
Selalu saja menjadi suara ribuan lebah yang mendengung didalam kepala…
aku selalu bertanya untuk mencari sebuah jawaban …
HIDUP!!, SEKALI LAGI KUTERIAKAN PADA JIWA YANG MASIH BERTANYA,
DAN AKU JAWAB AKU MASIH HIDUP….

Tenang ucap bisik
Semua ada yang mengatur
Semua ada yang mengatur
Semua ada yang mengatur

TO: MY DEAREST SOUL

Untuk yang tersayang,
Aku bertemu sesuatu yang biru dan sebelumnya tak terduga untuk itu.
Malam tanpa bulan dan bintang ada di matamu.
Kau menjadi suatu yang mengkalbu untuk setiap tidur yang tak pernah surut menjadi tua.
Kamu….ya,kamu menjadikan segalanya menjadi bintang…
tidak, kamu tidak berjalan sendiri dan aku tidak sendiri.
Sebuah surat yang terangkai untuk sebuah kata-kata yang tak terpisahkan dari impian untuk mencium keningmu sepuluh ribu kali.
Semoga malam tak pernah manangis dan hujan tak berakhir walau tanpa bintang.
Kamu masih sadarkan? Atau sudah tertidur…
Hmm….jangan lagi ada sesuatu yang mengganjal, hanya satu yang ingin aku katakan…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Sesederhana dari apa yang kau berikan bagiku.
Selamat malam.
Dan taxi itu berhenti membawa kamu kemana tempat yang kamu inginkan tanpa argo,
Dan menuju satu tujuan untuk negeri senja.
Kita tak akan pernah kembali kepada yang berlalu.
Untuk malam ini,jagalah dirimu baik-baik.
Kamu begitu sederhana.

Dedicated to My Riky Krisno. the greatest gift i ever had...


Sunday, January 02, 2005

BLUE COVER

Secercah imaji yang dihadirkan dalam tarian kata.
Dinikmati dengan secangkir hot cappuccino dan lantunan musik jazz pada sore hari…
hari yang sepi.. aku suka ...
Jiwaku sudah berubah menjadi partikel-partikel kecil yang ditembakan tepat di ubun-ubun..
seperti alat transpoter yang dapat memindahkan ku kedalam alam yang lain…
Aku dalam imaji kata yang menari menggambarkan surga dalam dunia yang aku pijak…
Untuk sesaat, aku dapat menjadi baginda atas diriku…
sebelum akhirnya aku terbangun dalam lembaran akhir, yang belum berakhir…

Sebuah puisi lawas
bandung, 12 november 2002

Sunday, December 12, 2004

my room

semua benda di kamarku bisa bercerita....
cerita tentang sebuah senja
tentang cerita yang bahagia
tentang lenguhan tangis yang mengiba
tentang hati yang bicara
tentang latihan yoga
tentang setumpuk cita-cita
tentang kutu kucing yang menggila
tentang panca indra
tentang alunan lagu
tentang sebuah buku
tentang puisi dalam kalbu
tentang kalung-kalungku
semua benda di kamarku ikut bersenggama....

time...hmmmph!

Kau menunggu ceruk langit itu mulai merapat
membentuk suatu dataran rata terbentang.
Sambil menengadah kau berujar "mengapa tak jua tumbuh bulu-bulu sayap di punggungku?, agar aku dapat terbang masuk kedalam pusaran langit itu" ujarnya mengeluh...
aku akan mencari jiwa yang hilang duaribu tahun lalu.
tak terasa waktu berlalu dan aku masih terpaku ujarnya.
tetapi sekaranglah saatnya dimana rajah tangan sudah memudar...

dunia akan lalu pada sebuah pagi.mungkin sedetik kemudian,atau seabad lagi.
"waktu serupa tukang roti" ujarmu.teriakannya menggema di ujung gang.

dunia akan lalu pada sebuah sore kiranya.
"aku mendengar sebuah ledakan,entah dimana" katamu, mungkin dalam jantungmu yang cemas menunggu.

dunia akan laju dan menjejaki malam. di laut yang menghubungkan tidur dan impianmu.
"aku ak akan memburunya" katamu. tetapi mungkin,ia masih menunggumu di ujung gang.

i wish it was u...
my dearest soul.

Thursday, December 09, 2004

perdana

pertama...
berawal dari barisan kata yang tampak makna menjadikan seribu tetes hot lemon tea yang bisa di sruput kapanpun saya-kamu-kalian mau...
enjoy!