Monday, January 03, 2005

Journaling for self –discovery chapter I :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…pagi ini aku akan berbagi oksigen dengan rutinitas keseharian. Degup jantung kita sudah sama irama detaknya…dia adalah sebentuk yang kusangka cinta.
Kita selalu menghabiskan banyak purnama berdua…duduk-duduk dibangku taman bercerita hingga sore tiba. Aku dan dia kusangka satu.
Ya…jiwaku sudah bernafas dalam raganya…aku merasakan perihnya ketika dia mengeluarkan suara lirih, aku merasakan sesak yang amat ketika dia marah, aku tersenyum bahagia ketika dia bahagia,kulitku sudah berbaur dalam pori-pori kulitnya yang suci…dalam lenguhan nafas yang menyatu dengan peluh…kalian saling mencintai ucap anugerah.
Ada bisikan lain! Tidak semudah itu ujar waktu…karena dalam semesta raya tidak ada suatu yang lekang tanpa melewatiku.

Journaling for self-discovery chapter II :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…kenapa aku lelah pagi ini!?
Sudah berbulan-bulan mendung itu masih saja bergelanyut di ufuk.
Sinar matahari masih berusaha membiaskan cahayanya dalam cuaca seperti itu, tapi sayang, sinarnya tidak sanggup menembus awan gelap yang semakin pekat.
Kenapa hujan tidak segera saja turun harapanku dalam hati.
Keseharianku masih tetap sama, kenapa wajahmu berduka? sapa ku padanya. Aku lelah, selalu saja hariku diiringi dengan mendung yang sama dilangit,kemana sinar yang biasa kita nikmati di pagi hari? Ujarnya
Hmmmph…aku hanya bisa menghela nafas. Kali ini pertanyaannya tak sanggup aku jawab.karena aku merasakan hal yang sama.

Journaling for self-discovery chapter III :

Selamat pagi sapa ku pada matahari…kali ini salam pagi yang biasa kuberikan pada surya hanyalah sebentuk rutinitas kata. Karena mendung sudah semakin meraja menyelimuti seluruh cahaya…
Aku bertemu dengan dia seperti biasa, tapi tak ada yang berubah dari sorot mata diwajahnya semenjak hari pertama mendung itu datang…cahaya matahari sudah tidak sanggup lagi memberikan energi untuknya..aku sedih ujarku lirih. Kenapa dia hanya diam? Matanya cekung hitam dan tubuhnya semakin kurus, yang tersisa hanya balutan kulit yang menyelimuti tulang. Dia jauh lebih merasakan kesedihan yang sangat…aku tidak bisa hidup tanpa cahaya ujarnya. Dengar…nafasku sudah satu-dua..aku tidak bisa lagi berkuasa atas aku, ujarnya berbisik.
Jangan bunuh aku dengan kematianmu ujar ku separuh berteriak…suaraku yang parau karena sesak, sudah tidak sanggup untuk berteriak lantang. aku mencintaimu…bagaimana bisa aku merasakan cinta dalam kematianmu?!?! Kamu tidak boleh mati…KAMU TIDAK BOLEH MATI!!!…
Kata terakhir yang ku teriakkan itu ikut menguap seiring dengan nafasnya…terbang ke angkasa, dan menyatu dalam alunan angin kesedihan yang sangat.


SAYA TIDAK INGIN MENYUDAHI KEMATIAN INI DENGAN KEMATIAN…
KARENA KEMATIAN YANG AKU RASA SEKARANG LEBIH NYATA DARI KEMATIAN YANG ADA…
AKU HANYALAH RAGA…
KARENA JIWA YANG KU PUNYA SUDAH KAU BAWA…
TERBANG KE ANGKASA…
BERSAMA RUH PARA PEZINA…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home