Monday, January 03, 2005

TERUK

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit, berteriak, mengamuk memecahkan cermin dan membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
A poem by Sapardi Djoko Darmono, 1973

@#%GJHSD@N7!ngaheu80-wlhj@n7ingaai@#$m;mtvbagsatanjklsy@n7iiiiingunderstanding!@##$%^&*dengannafasbuatangakaadaudar@gak@da##$^%ud@ra&*)Giokfieufiuuhhhelaannafashelaanafas…senj@j@74disen7@tabuatkumenghel@n@fas…

tiap detik waktu dalam ketiadaan untuk mencari suatu pembuktian?!
Hmmm…ternyata aku masih dalam labirin yang sama..masih saja sama..
Sebuah monolog yang selalu di lakukan pada tiap kehampaan malam,
dalam keheningan semesta akan sebuah pertanyaan besar.
Selalu saja menjadi suara ribuan lebah yang mendengung didalam kepala…
aku selalu bertanya untuk mencari sebuah jawaban …
HIDUP!!, SEKALI LAGI KUTERIAKAN PADA JIWA YANG MASIH BERTANYA,
DAN AKU JAWAB AKU MASIH HIDUP….

Tenang ucap bisik
Semua ada yang mengatur
Semua ada yang mengatur
Semua ada yang mengatur